Aku Rindu Pada Kalian…
Ketika dalam suatu seminar saya ditanya oleh seorang motivator, kenapa anda bisa menjalani hidup dengan penuh semangat dan penuh optimisme, maka salah satu jawaban saya adalah karena saya punya keluarga dan saya punya seorang ayah, ya seorang ayah, dialah orang yang membuat saya bisa melangkah sejauh ini, saya adalah seorang mahasiswa disebuah sekolah tinggi ilmu informatika swasta disolo, tentu ketika saya berstatus sebagai seorang mahasiswa disebuah sekolah tinggi informatika banyak orang yang mengira karena bahwa saya adalah seorang anak dari keluarga yang kaya raya dan terpandang, namun dalam kenyaaannya saya adalah seorang anak dari seorang pedagang krupuk yang setiap hari harus bersusah payah menyelusuri jalan raya agar krupuk yang dibawanya bisa habis terjual, ya itulah profisi ayah saya sekarang.
Ayah saya bekerja disurabaya sebagai penjual krupuk semenjak saya masih kecil, walaupun beliau adalah seorang pedagang krupuk asongan namun semangat beliau didalam mendidik anak-anaknya sangat luar biasa, beliau selalu berusaha agar anak-anaknya bisa mendapatkan pendidikan diperguruan tinggi supaya nantinya anak-anaknya bisa menjadi orang yang sukses.
Ayah saya selalu menuruti kebutuhan anaknya, Dulu ketika saya masih sekolah di SMA, banyak temen-temen sebaya saya dari kalangan anak-anak orang kaya yang sudah dibelikan motor oleh orang tua mereka, ketika melihat hal itu, ayah saya berniat untuk membelikan motor buat saya tanpa terlebih dahulu memberi tahu kepada saya, hal ini dikarenakan beliau ingin memberikan kejutan buat saya, padahal saat itu harga motor sangatlah mahal, kalau dihitung-hitung penghasilan ayah saya selama satu tahun pun tidak akan bisa cukup digunakan untuk membeli motor, namun ayahku adalah seorang ayah yang tidak mudah putus asa, dia memberanikan diri untuk meminjam uang diBank agar anaknya ini bisa mengendarai motor seperti teman-temannya, sungguh tidak disangka dengan modal keberanian ayah untuk meminjam uang dibank akhirnya saya bisa mengendarai sepeda motor dengan merk Yamaha yang sampai sekarang selalu menemaniku didalam setiap langkah dakwahku ini.
Suatu pagi sekitar ba’da subuh, ayahku pulang dari Surabaya, waktu itu suasana rumah masih sepi karena saya dan ibu saya masih sholat berjama’ah dimasjid, kebetulan rumah saya ada disamping masjid, jadi ketika waktu sholat tiba maka suara mudzin akan terdengar dengan jelas dan keras dirumah kami, jadi dengan segera kami pun biasanya langsung berbondong-bondong pergi kemasjid untuk melakukan shalat berjama’ah, ayah yang saat itu masih kecapkan karena habis pejalanan dari Surabaya –sragen dengan sabarnya menunggu diluar rumah karena pintu masuk sedang dikunci, setelah beberapa saat saya dan ibu pun pulang dari mesjid dan dengan senyuman yang sangat teduh ayah menyambut kami, kemudian kami sekeluarga pun masuk kedalam rumah dengan hati yang dipenuhi dengan kebahagiaan karena kami sekeluarga bisa berkumpul dan bercengkrama bersama-sama, selang beberapa saat kemudian ayah memanggil saya dan sambil memasukkan tangannya kedalam sakunya ayah menanyakan tentang pekembangan saya disekolah, karena waktu itu saya masih duduk dibangku kelas 3 SMA NEGERI 1 SUKODONO, beberapa saat kemudian ayah mengeluarkan tangannya dari sakunya, sungguh tidak disangka ternyata barang yang dikeluarkan oleh ayah saya dari sakunya adalah sebuah HP yang masih bagus, dengan senyuman yang penuh dengan kesejukan ayah mengulurkan tangannya yang saat itu sedang membawa sebuah HP kepada saya, sungguh ini seperti mimpi karena memang sudah lama saya menginginkan sebuah alat Bantu komunikasi seperti HP untuk memperlancar komunikasi saya dengan teman-teman dan para guru saya. Sambil menngulurkan tangan saya untuk menerima HP pemberian ayah tiba air mata ini tidak mengalir seakan membasahi wajah ini, kemudian dengan bijaknya ayah menceritakan bahwa HP yang diberikan kepada saya itu dulunya adalah milik seorang temannya yang ada disurabaya, pada saat itu temannya sedang mengalami kecelakaan, dan saat itu temannya sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan dirumah sakit, maka dengan terpaksa teman ayah mejual salah satu HPnya, akan tetapi setiap orang yang ingin membeli HPnya selalu menawar dengan harga yang tidak semestinya yang mana harga penawarannya sangat jauh dari harga pasaran, setelah itu karena merasa kasihan ayah membeli HP milik temannya tersebut dengan harga Rp.350.000, padahal teman ayah tersebut hanya menjual HPnya dengan harga Rp. 300.000, ketika uang yang Rp.50.000 dikembalikan kepada ayah saya, beliau menolak dan beliau mengatakan bahwa uang yang 50.000 adalah uang bantuan dari ayah untuk biaya pengobatan temannya dan ayah juga mohon maaf kepada temannya dikarenakan hanya bisa memberikan bantuan sedikit dan tidak bisa lebih banyak lagi, sungguh mulia sekali hatimu ayah tanpa terasa air mata ini semakin deras mambasahi wajah ini.
Hingga suatu hari ketika saya sudah duduk dibangku kuliah diperguruan tinggi ilmu computer, saya mendapatkan tugas dari kampus untuk membuat pemograman computer dirumah, sungguh saat itu saya tidak tau harus berbuat apa, karena saat itu adalah hari sabtu sedangkan waktu pengumpulan tugasnya paling lambat adalah hari senin, sungguh bingung sekali saya saat itu karena saat itu posisi saya ada dikampung dan dikampung tidak ada yang punya computer selain kakak sepupu saya dan juga laptop kelurahan yang dibawa oleh bapak lurah, melihat keadaan saya yang murung saat itu ibu saya menanyakan sebab dari kemurungan saya, kemudian saya ceritakan semua permasalahan saya kepada ibu saya dan dengan seksama ibu saya memperhatikan setiap perkataan saya, setelah ibu selesai mendengarkan keluhan saya, ibu hanya bisa berpesan agar saya harus selalu sabar, selang beberapa waktu kemudian ibu menceritakan keluhan saya kepada ayah, setelah mendengar cerita dari ibu tentang keluhan saya terhadap tugas-tugas kampus, ayah langsung bergegas ketempat budhe saya untuk meminjam laptop pada kakak sepupu saya, namun setelah sampai disana ternyata laptop kakak sepupu saya tidak dibawa dan masih ditinggal dikost-kosannya diKlaten, setelah itu ayah pergi ketempat bapak kepala desa untuk meminjam laptop, namun sampai disana ayah juga tidak juga mendapatkan laptop dikarenakan waktu itu laptopnya baru dipinjam oleh karyawan kantor kelurahan, sungguh saat itu ayah bersusah payah untuk bisa mendapatkan pinjaman laptop agar saya bisa mengerjakan tugas kampus dengan lancar, tapi sesampainya dirumah ayah tidak membawa apa-apa kecuali pakaian dan celana yang basah dikarenakan air hujan yang membasahi teseluruh tubuhnya, setelah itu ayah dengan perlahan mendekatiku dan menasehatiku agar saya tetap sabar dalam setiap menjalani kehidupan ini, kemudian setelah itu ayah menanyakan tentang harga laptop kepada saya, dan dengan suara lirih saya menjawab “sekitar 6 jutaan pak”, mendengar jawabanku ayah menundukkan kepalanya sambil mengusap dahinya yang masih basah karena tetesan air hujan. Namun setelah itu ayah tersenyum dan berkata “sabar ya nak, yang penting kamu harus belajar dengan giat dan jangan memikirkan apa-apa kecuali belajar dengan giat”.
Sungguh tidak disangka setelah kejadian itu ayah memberanikan diri untuk meminjam uang pada juragannya, sebenarnya ayah ingin meminjam uang dibank tapi ayah masih mempunyai tanggungan hutang dibank jadi ayah tidak bisa mengajukan pembiayaan dibank lagi kecuali hutangnya harus dilunasi terlebih dahulu, akhirnya dengan penuh penghinaan ayah mendapatkan uang pinjaman dari juragannya sebesar 4 juta rupiah, setelah itu ayah menyuruh kakak sepupu saya untuk menelphon saya dan menyuruh saya pulang untuk mengambil uang buat membeli laptop disolo, ketika mendengar hal itu saya hampir tidak percaya dari mana ayah mendapatkan uang sebanyak itu padahal ayah saya hanya seorang pedagang krupuk asongan diwarung-warung yang setiap hari berkeliling dengan motor butut pemberian kakaknya yang sudah meninggal dunia.
Selang beberapa hari kemudian ketika saya mau pulang untuk mengambil uang tersebut, tiba-tiba ada seorang tetangga saya yang kebetulan bekerja disolo menemui saya dengan membawa sebuah amplop tebal yang berisi uang sebesar 6 juta rupiah, sungguh hal ini tidak terbayang didalam benakku dan memang tidak terpikirkan olehku, dulu ketika ayah bertanya tentang harga laptop, saya kira beliau hanya bercanda dan hanya sebuah hiasan kata untuk menghibur diri saya ketika sedang tebentur masalah dengan tugas kampus, akan tetapi hal itu ternyata bukan sekedar hiasan kata penghibur melainken sebuah realita yang terjadi.
Dua minggu kemudian alhamdulillah saya sudah mendapatkan laptop yang masih baru, laptop itu saya beli ditoko computer milik teman saya didaerah solo, setelah saya mendapatkan laptop tersebut saya langsung pulang dan ingin memperlihatkannya kepada keluarga saya dikampung, sesampainya dikampung saya, banyak tetangga saya yang berkunjung kerumah saya untuk melihat laptop baru saya karena memang didesa saya adalah desa yang terpencil sehingga ketika saya membawa laptop kerumah bayak yang takjub karena memang begitulah kondisi didesa saya yang belum tersentuh oleh perkembangan tehnologi terkini.
Ketika malam ahad seperti biasanya dikampung saya ada pengajian rutin yang diadakan oleh RISMA ( remaja islam masid ), ketika itu teman-teman saya meminta saya untuk mengisi acara inti didalam forum remaja tersebut, karena kebetulan saya adalah mantan ketua RISMA angkatan 05/06 jadi mereka menganggap saya senior dalam RISMA tersebut, tapi tawaran mereka saya tolak karena ibu saya ingin berbincang-bincang dengan saya, soalnya saya jarang pulang kerumah jadi mungkin ibu ingin mengobati kerinduanya terhadap anaknya yang satu ini, malam itu ibu bercarita tentang kondisi sawah kami yang menjelang panen, kondisi warga didesa kami sampai perkembangan-perkembangan terkini didesa kami, saya pun juga bercerita pada ibu saya mengenai keadaan saya dikampus, mengenai keadaan dimasjid tempat tinggal saya ketika disolo karena saya disolo tinggal dimasjid menjabat sebagai ta’mir masjid, selain itu saya juga bercerita tentang kondisi saya di Ma’had abu bakar UMS (universitas muhammadiyah surakrta ), karena selain saya belajar disekolah tinggi ilmu computer, saya juga kuliah dima’had abubakar UMS program biasiswa jurusan Tahfidz, ya ketika malam itu saya dan ibu saya saling bertukar pengalaman dan berbagi cerita, dan sebagai penutup dalam cerita itu ibu berkata kepada saya
“nak hati-hati disana ya, kami semua disini selalu mengkhawatirkanmu, setiap malam ibu selalu bangun untuk shalat tahajud untuk mendoakanmu agar kamu nanti bisa menjadi orang yang sukses dan orang yang bermanfaat bagi lingkunganmu, nak kami semua sangat mendukung apapun keputusan yang engkau ambil karena kami semua sangat percaya kepadamu, ayah dan ibu akan berusaha untuk mencukupi semua yang engkau butuhkan karena itu adalah kewajiban kami sebagai orang tua, jadi kamu jangan memikirkan apa-apa, kamu konsentrasi saja dengan pelajaran dikampusmu maupun dima’had, ayah ibu mencari uang selama ini hanya untuk kamu dan adikmu, jadi jangan engkau kecewaan kami berdua, nak ingat bahwa laptop yang engkau bawa sekarang ini selain uang dari hasil hutang ayahmu kepada majikannya sebagian adalah hasil dari ayahmu menjual sepeda motor miliknya, karena dia ingin engkau menjadi orang yang sukses dan orang yang bermanfaat bagi orang lain, nak kami tidak mengharapkan apa-apa dari hasil kesuksesanmu kelak, karena yang kami harapkan padamu sekarang sudah kami dapatkan, karena engkau adalah anak yang selalu nurut dan berbakti pada kami dan itulah harapan kami yang sudah kami dapatkan darimu, sekarang tunaikanlah harapan orang lain terhadapmu, nak didesa kita banyak orang-orang yang menganggur jadilah engkau harapan bagi mereka, sekolahlah yang rajin ya nak dan hati-hati disana, doa kami selalu menyertaimu”.
Mendengar ucapan ibu sebenarnya saya ingin menangis tapi saya coba untuk menahannya karena saya ingin kelihatan tegar dihadapan ibu saya, setelah kami selesai bercerita sayapun bergegas tidur, namun diri ini tak kuasa untuk menikmati indahnya peraduan mimpi dimalam hari, karena pikiran saya selalu terbayang-bayang dengan ucapan ibu saya, yah salah satunya adalah tindakan yang ayah lakukan dengan menjual motornya yang setiap hari dia gunakan untuk mencari rezki, yang setiap hari dia gunakan untuk memasarkan dagangan krupuknya disurabaya, semua itu beliau lakukan agar anaknya bisa mempunyai laptop sehingga kuliah saya bisa lancar.
Ayah, aku rindu kepadamu, sudah berbulan-bulan kita tidak bersua, ingin sekali aku memelukmu erat untuk mengobati kerinduanku ini. ya Allah saya bersyukur bisa memiliki keluarga seperti mereka, saya bersyukur terhadap yang Engkau berikan kepada saya, Ya Allah berikanlah kebahagiaan kepada kedua orang tua saya yang selalu mengorbankan jiwa dan raganya hanya untuk masa depan anaknya, Ya Allah berikanlah saya kesempatan untuk membahagiakan mereka berdua sebagai tanda baktiku kepada mereka, kabulkanlah permintaanku Ya Allah….
Untuk ayah, ibu dan adikku miftahul huda.
aku rindu pada kalian semua, aku rindu ingin bertemu dengan kalian, aku rindu dengan belaian lembut kalian, aku rindu pada canda tawa kalian, aku rindu pada ketika bisa berjalan-jalan dengan kalian, aku rindu, sungguh aku rindu, kapan ya Allah kerinduan ini bisa terobati.

18 maret 2009
(inilah coretan pena sebagai penghibur hatiku dihari kelahiranku)